Cinta Keluarga

piece of mind, harmony couple, happy family

Kupat tahu : kesetiaan yang mengantar Abah Sukarya naik haji.

leave a comment »

Aroma menggoda selera tercium seketika saat memasuki warung sederhana milik Abah H.Sukarya ( 74 ) di Jl.Kol.G.A.Manulang no.256, Purabaya, Kec.Padalarang, Kab.Bandung Barat. Aroma itu menggugah perut makin keroncongan. Kuah kental berwarna sedikit kemerahan dengan taburan bawang goreng, ditambah tahu yang baru diangkat dari wajan, irisan ketupat dan sedikit bihun disajikan sepiring penuh. Hmm.. menggoyang lidah.

Itulah kupat tahu asli Padalarang yang disajikan Abah Sukarya sejak tahun 1960-an. Cikal bakal kupat tahu khas Padalarang ini sudah tersebar di mana-mana. Keunikan kupat tahu Padalarang terletak pada kuahnya. Kalau kupat tahu Tasikmalaya dan Bandung, kuahnya bumbu kacang, pakai toge. Kupat tahu Padalarang, bumbunya dari santan seperti gule, tanpa toge. Cukup kupat, tahu, sedikit bihun dan kecap sedikit, tutur Abah.

Menurut Abah, sebelum dirinya, ada mertua, uwak dan pamannya yang terlebih dahulu berjualan kupat tahu khas Padalarang. Bisa dibilang, ketiga orang inilah yang menciptakan kupat tahu Padalarang, sekitar tahun 1950-an. Bosan menjadi kuli konveksi di kota Bandung, Abah putar haluan berjualan kupat tahu hingga sekarang.

“Rezeki Abah mah di sini, makanya senang jualan kupat tahu terus. Gara2 kupat tahu juga, Abah bisa naik haji pada tahun 2000 lalu sama ibu,” kata ayah 10 anak ini. Setiap hari, Abah membutuhkan 25 kg beras untuk membuat kupat, 40-60 butir kelapa untuk membuat santan dan 400-600 potong tahu. Walau usianya sudah senja, Abah selalu membuat kupat tahunya sendiri. Mulai dari membuat ketupat, kuahnya, sampai menyajikannya ke hadapan pelanggan. Abah membuka warungnya dari pukul 6.00-12.00 WIB. Penghasilannya per hari bisa mencapai Rp.1,5 juta kalau sedang ramai. Kalau sepi, Abah bisa mengantongi Rp.700 ribu. Sepiring kupat tahu, ia jual seharga Rp.6000 per piring.

Sebuah spanduk lusuh bertuliskan “Kupat Tahu Purabaya H.Sukarya” membentang di depan warungnya yang sederhana. Abah sempat mangkal di dekat stasiun Padalarang, setelah itu pindah ke Purabaya tahun 1965 hingga sekarang. ( PR, 4/5/2009 )

kupat tahu, hmm...mengundang selera

kupat tahu, hmm...mengundang selera

About these ads

Written by Nanin Topi

22/05/2009 at 12:32

Ditulis dalam review

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: