Cinta Keluarga

piece of mind, harmony couple, happy family

Suami berhutang jika istri yang menafkahi.

leave a comment »

Nafkah, nafkah, dan nafkah. Kata itu sepertinya menjadi momok saat kita merencanakan sebuah pernikahan. Siapa saja yang akan menikah pasti yang terpikirkan pertama kali, atau hal selalu muncul di kepala, adalah nafkah. Kebanyakan orang tua yang akan menikahkan putrinya menanyakan kemampuan menantu memberikan nafkah. Yang selalu diributkan pria atau wanita yang sudah menikah, lagi2  soal nafkah.

Wanita bekerja seraya menjaga bayi. Multi task.

Wanita bekerja seraya menjaga bayi. Multi task. Dengan beragam kesibukannya, wanita seperti dituntut sekuat Rambo.

Kenyataan ini sebenarnya wajar2 saja. Dalam pernikahan, kedudukan nafkah sangat penting. Ia tiang penyangga yang menentukan. Lestari atau tidaknya ditentukannya. Nafkah adalah kewajiban dalam pernikahan.

Melihat ungkapan tadi, sepertinya nafkah dipahami keliru oleh banyak orang. Dalam kitab Anwar Al-Masalik karya Syeikh Muhammad Azzuhri, nafkah dimaknai sesuatu yang wajib diberikan pada istri berupa harta benda, misalnya sandang, pangan, papan. Tidak ada pembagian nafkah menjadi nafkah lahir dan nafkah batin. Sebagaimana sabda Nabi dalam Shahih Muslim ( hadis 1218 ),”..wajib kalian berikan pada para istri rejeki dan pakaian mereka dengan cara yang baik.

Kewajiban memberi nafkah dibebankan pada suami setelah akad nikah berlangsung. Suamilah yang menanggung biaya hidup istri dan anak-anaknya. Dalam kitab2 fiqih disebutkan besar kecilnya nafkah yang harus diberikan. Sesuai kemampuan seseorang, pembagian nafkah digolongkan menjadi tiga ; yaitu miskin ( mu’sir ), sedang ( mutawasith ) dan kaya ( musir ).

Pada umumnya, nafkah diberikan dengan menggunakan ukuran adat yang berlaku di daerah tempat tinggal. Kalau kebiasaan sebuah keluarga dari kalangan menengah/ sedang menghabiskan 2 juta tiap bulannya, maka suami wajib memberikan nafkah sebesar itu. Kebiasaan keluarga dari kalangan miskin sebesar 600 ribu, sebesar itulah kewajibannya.

Lantas, andai suami tak mampu memberi nafkah sama sekali ?

Solusi terbijak selain perceraian, istrilah yang mengambil alih posisi mencari nafkah. Dalam Islam, proses membangun keluarga untuk mewujudkan ketentraman, cinta dan kasih sayang, bagi semua anggotanya ( QS. Ar-Rum : 21 ). Posisi suami isteri sama, dalam ungkapan Al-Qur’an, yang satu menjadi selimut bagi yang lain ( QS. Al-Baqarah : 187 ). Suami dan isteri secara bersama dituntut melakukan kerja2 positif untuk kepentingan keluarga dan masyarakat ( QS. Ali Imran : 193, dan At Taubah : 71 ). Karena itu, rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama, beban-bebannya dipikul bersama.

Ketika suami tak mampu menjalankan fungsinya maka istri menggantikannya. Suami tak boleh lalai, ia harus tetap berusaha, karena ia tetap dituntut memberi nafkah. Bahkan ada ulama yang mengatakan, andai istri yang memberi nafkah, maka itu menjadi hutang bagi suami yang harus dibayarnya nanti.

Meski tidak harus membuat calon suami berputus asa atau tidak jadi menikah, persoalan nafkah menjadi bagian yang layak untuk dipikirkan. Dengan kata lain, kalau hidup sendiri harus mencari nafkah, maka ketika memutuskan berkeluarga juga harus lebih bersemangat mencari nafkah, dan itu menjadi bagian dari ibadah yang memperoleh poin di hadapan Allah Swt. ( Anggun ).

free html visitor counters
hit counter
About these ads

Written by Nanin Topi

29/07/2009 at 11:26

Ditulis dalam resep cinta

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: