Cinta Keluarga

piece of mind, harmony couple, happy family

Mengobati diare

leave a comment »

Musibah pacsa banjir ternyata tidak kalah mengerikan. Dianatara penyakit yang biasa muncul adalah diare. Diare atau lebih dikenal dengan (maaf) mencret, adalah suatu penyakit yang ditandai dengan seringnya buang air besar secara tidak normal dimana terdapat perubahan konsistensi menjadi lembek/cair dan perubahan frekuensi lebih dari tiga kali dalam sehari. Hal ini bisa menyebabkan timbulnya kekurangan zat makanan dan cairan sehingga bisa berakibat pada kematian.

Penyebab

Penyebab diare antara lain adalah infeksi virus, bakteri dan parasit. Atau juga karena alergi dari protein susu sapi, intoleransi karbohidrat, malabsorpsi karbohidrat, malabsorpsi lemak, malabsorpsi protein dan bisa juga disebabkan keracunan makanan seperti zat kimia beracun atau racun dari mikroorganisma. Pada saat banjir, sanitasi biasanya tidak berjalan dengan baik. Infeksi saluran cerna umumnya disebabkan oleh bakteri E. Coli dan Salmonella. Bakteri Coli biasanya menyebabkan peningkatan penderita diare akut yang berlangsung kurang dari 7 hari dengan pengeluaran tinja yang lunak atau cair yang sering, disertai muntah dan suhu tubuh tinggi.

Sebenarnya dalam keadaan normal, coli ini terdapat dalam jaringan usus besar manusia, tetapi jika dalam jumlah yang terlalu banyak, bisa menyebabkan diare. Pada anak-anak, peluang terjadinya dehidrasi atau kekurangan cairan bisa lebih cepat. Dengan pola konsumsi makanan dan minuman yang menurun, kondisi ini akan berakibat fatal hingga sampai pada kematian. Tidak seperti Coli, bakteri Salmonella secara normal tidak ada pada tubuh manusia. Bakteri ini menyebabkan demam tifoid dengan gejala mual, muntah, demam, kadang-kadang diare atau kadang justru tidak bisa buang air besar. Penanganannya harus segera dibawa ke dokter.

Stadium Diare dan Cara Penanganan

Ada 2 penilaian terhadap penderita diare yang akan mempengaruhi terhadap penanganan pada penderita. Pertama, bila penderita dalam keadaan sadar, mulut dan lidahnya basah, tidak merasa kehausan, mata terus berair, turgor kulit (kulit perutnya bila dicubit) kembali cepat. Penanganan yang dilakukan adalah berikan banyak cairan misalnya larutan gula garam, air tajin, kuah sayur, bubur tepung beras, atau air kelapa. Untuk mencegah dehidrasi, berikan oralit. Berikan cairan sampai diare berhenti. Untuk bayi, teruskan pemberian ASI. Bayi kurang dari 6 bulan yang diberi minuman tambahan (susu formula), dapat diteruskan dengan mengencerkan separuhnya. Anak usia lebih dari 6 bulan, teruskan makan yang bergizi, lunak, mudah dicerna dan tidak merangsang.

Kedua, yakni bila penderita diare gelisah, tampak kehausan, muntah-muntah, tinja mengandung darah, turgor kulit kembali dengan pelan, mata dan ubun-ubunnya tampak cekung, mulut dan bibirnya kering, keadaannya sangat lemah, tidak mau minum dan makan, serta suhu badan tinggi. Jika terdapat salah satu dari tanda tersebut, penderita harus segera dibawa ke dokter. Selama dalam perjalanan, penderita harus diberi minum cairan larutan gula garam atau oralit. Rehidrasi (pemberian cairan yang cukup termasuk oralit) merupakan tindakan paling penting sebagai antisipasi dari kekurangan cairan tubuh.

Cara Pemberian Oralit

Untuk anak-anak, minumkan larutan oralit paling sedikit 1 gelas setiap kali anak mencret. Jika muntah, jangan putus asa. Minumkan oralit sedikit demi sedikit dengan menggunakan sendok. Untuk orang dewasa, minumkan paling sedikit 2 gelas air setiap kali penderita mencret. Cara membuat oralit, masukkan 1 sendok teh penuh gula dan ¼ sendok teh garam ke dalam satu gelas air masak. Campuran diaduk sampai larut benar.

Pencegahan

Secara umum, dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan perorangan serta kesehatan rumah dan lingkungan. Kebersihan pribadi meliputi pemberian ASI eksklusif pada bayi minimal sampai usia 4 bulan. Jangan memberikan dot atau botol susu yang kotor pada anak, cuci tangan dengan sabun terutama sebelum makan, alat masak dan alat makan harus dicuci sebelum digunakan, selalu minum air yang telah direbus hingga mendidih, makanan bebas lalat dan kecoa. Sedangkan kesehatan rumah dan lingkungan meliputi rumah yang cukup sinar matahari, cukup udara segar, lantainya kering dan bersih, pekarangan bersih dari sampah dan kotoran. Air kotor terbuang lancar ke pembuangan, apabila mempunyai hewan peliharaan, kandangnya harus sering dibersihkan agar bebas lalat, nyamuk dan bau. Jamban atau kamar mandi harus bagus saluran pembuangannya. ( MQ Media, 2002 )

Pohon merah di tepi sungai

Pohon merah di tepi sungai

Written by Nanin Topi

17/04/2009 pada 11:08

Ditulis dalam resep sehat

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: