Cinta Keluarga

piece of mind, harmony couple, happy family

Damai dalam badai pertengkaran.

leave a comment »

Seorang sahabat tak tahan lagi dimarahi istri. Sampai di puncak kekecewaan, dia bergegas mengadu pada Umar bin Khattab. Barang kali pria gagah perkasa itu bisa memberi jurus jitu menaklukkan amarah wanita.

Membujuk istri yang sedang ngambek

Bujuk istri yang sedang ngambek, dgn lemah lembut.

Sayang, perjalanan penuh harapan berujung pada ketakjuban yang hebat. Umar tempat meluahkan keluhan mengalami nasib yang sama tragisnya. Saat itu, sang singa Allah dimarahi istri yang sedang ‘judes-judesnya’.

Ajaib ! Al-faruq hanya diam. Dia memperlihatkan kesabaran yang prima. Kegarangan seorang jagoan medan laga sirna di rumah. Umar mampu memberi tauladan perlakuan bijaksana terhadap wanita. Kemarahan istri ditampung dengan kecerdasan emosi yang luar biasa.

Itulah pertengkaran yang profesional. Badai yang tidak memporak-porandakan istana cinta. Jika emosi salah satu pihak memuncak, yang lain mengendalikan diri. Salah satu mengkoreksi, yang lain memperbaiki. Terbukti api hanya bisa dipadamkan dengan kesejukan jiwa. Dua insane dengan karakter berbeda, tiba2 menyatu oleh tali ijab kabul. Wajar jika penyatuan kilat tsb sering menimbulkan pergesekan. Kadang2, jika tak hati2, bisa memercikkan api pertikaian.

PAS BUMBUNYA, PAS RASANYA

Pada dasarnya, marah salah satu gejala kejiwaan yang sehat. Orang normal memang punya potensi mengekspresikan rasa tak senang karena diperlakukan tak sepantasnya. Hanya keledai yang terus menerus pasrah. Marah yang ditampakkan secara profesional akan melegakan beban jiwa. Sebaliknya, jika dipendam akan berujung dendam yang meracuni hati.

Maka, marahlah dengan rumus tepat. Marah pada orang tepat, di saat yang tepat, dengan cara yang tepat dan maksud yang tepat pula. Begitulah marah yang mendatangkan pahala.

Marahlah pada pasangan secara bijaksana. Anak jangan dijadikan sasaran antara. Buah hati akan tumbuh penakut dan mentalnya ambruk. Pilih waktu terbaik ketika pasangan benar2 siap. Hindari kondisi ngantuk, capek atau emosi labil. Cara marah, mestilah mau’izah hasanah, nasehat yang baik. Maksud kemarahan bukan untuk menghina, melecehkan tetapi memperbaiki kekeliruan.

Kesalahan besar dalam marah, jika tujuannya menyakiti perasaan pasangan. Lebih berbahaya, jika sengaja salah sasaran. Jengkel pada suami, tetapi anak2 yang dicaci maki. Tersinggung oleh mertua, malah istri yang digebuki.

Berhubung marah proses penyegaran psikologis, ada masanya suami memahami dan berlapang dada sebagaimana Umar bin Khattab. Terutama untuk hal2 dan waktu spesial. Kondisi tertentu membuat istri gampang emosi, bahkan tanpa alasan jelas, seperti ketika haid, hamil atau setelah melahirkan. Perubahan2 fisik berimbas pada kegamangan jiwa.

Semuanya merupakan situasi yang berada dalam bingkai “harap maklum”. Nah, di sinilah suami bijak akan memperluas hati. Perbanyak saja mengingat kebaikannya yang berlimpah ruah dan bersabar untuk marah yang sebentar. Asal jangan ketagihan marah, karena bisa merugikan diri. Hipertensi, jantungan, dll siap menerkam.

Sesungguhnya, kemarahan pula yang mengantarkan manusia pada kondisi terburuk. Wajah rupawan berubah mengerikan, muka menghitam, mata merah melotot, pipi pun kembung. Pada kondisi demikian parah, sungguh tak nyaman bila diberi cermin. Selain itu, ucapan kasar berhamburan menikam perasaan. Semua kecerdasan lenyap berganti kedunguan.

Oleh karenanya, marahlah yang bermanfaat, profesional dan mendidik. Kalaupun marah itu sehat, takarlah ekstra hati2. Kelebihan bumbunya bisa berujung pada neraka dunia.

MARAH DENGAN KASIH SAYANG

Pengendalian amarah memang tidak mudah. Namun, melawannya dengan amarah setara, bak menyirami api dengan bensin. Serta merta meledaklah kobaran dahsyat, menghanguskan segala harapan yang pernah bersemi di hati.

Landasan rumah tangga Islami ialah mawaddah wa rahmah ( cinta dan kasih sayang ). Selama pondasi itu terpelihara dengan baik, mahligai cinta akan kokoh berdiri. Bahtera rumah tangga tetap berlayar meski badai selalu menerjang.

Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang berbuat kebaikan dan hindari orang2 bodoh. ( QS Al-A’raf 7 : 199 ).

Maka dibutuhkan sikap cerdas mengelola konflik, selalu berpikir positif bahwa tak ada kusut yang takkan selesai. Memang butuh waktu mencapai ishlah menghadapi suatu masalah. Ishlah bukan berarti perbedaan atau perselisihan harus selesai. Tetapi menemukan titik untuk berdamai dalam badai.

Selalu optimis menerapkan syukur dan sabar. Syukur yang mendalam telah diberikan kesempatan mencintai pasangan yang sah. Sabar atas sedikit kekurangannya, untuk diperbaiki kembali.

Senantiasa tersedia senyum ikhlas mendengar omelan istri yang nyaris rutin, kemudian memperbaikinya perlahan-lahan. Sebab terkadang seseorang butuh kesempatan memuntahkan isi dadanya. Kelembutan membuat nasehat suami lekas meresap. Umar mengingatkan begitu banyak kebaikan istri, kenapa tak bersabar dengan satu kelemahannya.

“..orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang2 yang berbuat kebajikan. ( QS. Ali Imran 3 : 134 ).

Istri yang shalehah tak tega menyakiti hati suaminya, tak sampai hati tanpa alasan memarahi orang yang dicintainya. Kemarahan itu semata-mata bukti kasih sayang dan perhatian. Terkecuali marah setiap waktu atau tanpa kenal waktu. Hal ini melewati batas toleransi dan selekasnya diterapi ke ahli jiwa.

SABARLAH YANG TERINDAH

Apapun alasannya, marah adalah gerbang masuknya setan. Efeknya mengerikan. Sabetan pedang akan menoreh luka, kalaupun bisa sembuh tetap menyisakan bekas. Namun, luka akibat tajamnya ucapan melebihi perihnya luka fisik.

Marah tak harus dijadikan jalan penyelesaian, masih banyak pilihan cara lain yang bijaksana. Maka sabar tetap menjadi poin utama.

Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang2 yang sabar”. ( QS. An-Nahl 16 : 126 )

Kesalahan suami tak akan menyamai kekejian Fir’aun yang mengaku dirinya Tuhan. Itupun, Allah menyuruh Musa mendakwahi raja zalim tsb dengan qaulan layyinan ( lemah lembut ). Seteledor apapun istri belum menyamai kekejian istri nabi Nuh yang mengkhianati suami dan agama. Ternyata, nabi yang penyabar masih mendoakan wanita yang pernah dicintainya.

Istri bukanlah gudang kesalahan tempat menumpahkan kekesalan. Ada kalanya suami membuka diri terhadap masukan2 berharga dari istri, walaupun pahit. Di sisi lain, kenangan mengarungi lautan tenang tanpa gelombang terasa kurang heroik karena tiada tantangan yang menggugah jiwa. Begitu pula mengayuh biduk rumah tangga. Betapa hambarnya bahtera cinta yang tanpa masalah. Rintangan jika berhasil dihadapi dengan ketegaran adalah pupuk unggul bagi cinta.

“Berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah,” demikian anjuran Nabi Muhammad. Jika Allah Yang Maha Kuasa bisa menebar maaf, mengapa kita manusia tidak bisa mencobanya, terutama dalam rumah tangga sendiri, mengendalikan marah menebar kasih. Damai dalam badai. ( Anggun, Agt 2005 ).

free html visitor counters
hit counter

Written by Nanin Topi

07/07/2009 pada 13:41

Ditulis dalam resep cinta

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: