Cinta Keluarga

piece of mind, harmony couple, happy family

Anang – Krisdayanti, don’t let you down ..

with 2 comments

Anang & Krisdayanti ketika masih bersama. Sekarang sudah berpisah secara resmi. Mungkinkah waktu mampu menyembuhkan luka di hati keduanya ? Rujuk kembali ? Mungkinkah cinta sejati masih memberi ruang bagi mereka bersatu lagi ? Jagad musik kita kehilangan salah satu pasangan serasi. Sedih.

“…tahulah,” kata putri pasangan Anang-Krisdayanti ketika ditanya wartawan soal pengusaha Timor Leste yang dikabarkan dekat dengan diva pop Indonesia itu. Saya agak terkejut seorang anak bisa bicara tanpa respek tentang ibunya. Anak yang dulu dirayakan ulang tahunnya begitu mewah, kabarnya sampai 1 milyar, dengan jerih payah kedua orang tuanya. Sekilas wajah kedua anak itu terlihat acuh, suntuk. Secara keseluruhan tidak simpatik. Mungkin kelewat dimanja. Jika dihadapkan situasi demikian, saya akan langsung menarik si bocah ke ruangan khusus, menanyainya hingga tuntas kenapa ia bersikap seperti itu. Dia akan terus duduk di kursi hukuman, sampai minta maaf, telah berkata tidak hormat tentang mama atau papanya.

Anak bukan dewa, nalarnya belum terbentuk, emosinya belum matang, mengatakan apa saja sesuai mood-nya tanpa menunggu faktanya secara lengkap, tak terpikir untuk bersabar terlebih dahulu, melakukan konfirmasi dari berbagai pihak yang bisa dirugikan oleh sudut pandangnya yang subyektif ( over reaktif karena takut kehilangan ) dan bisa jadi keliru.

Krisdayanti sebuah aset berharga di negeri ini. Ia menjadi panutan banyak penyanyi muda untuk menjadi bintang bersinar, menjadikan musik Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Secara psikologis, KD mungkin punya beban untuk terus menjadi lokomatif biduanita Indonesia. Dalam letihnya, dalam keterbatasannya, mungkin ia tidak bisa sempurna menjadi istri dan ibu yang baik, karena sering meninggalkan rumah demi show. Saya pernah baca, Anang sering mengurus makan sendiri, ia tak ingin merepotkan istrinya yang sedang sibuk dengan profesinya. Pengorbanan seorang suami yang layak diapresiasi. Setahu saya, momen penting mempererat ikatan keluarga adalah percakapan di meja makan. Setidaknya sekali saat makan malam. Apakah momen itu diupayakan di rumah Anang-KD ?

Seperti Ahmad Dani yang bercerai dengan Maya, Anang juga sangat concern pada perkembangan anak. Benar, doa anak shaleh memang bisa meringankan dosa2 orang tuanya di akhirat. Tapi, jika anak melihat perpecahan orang tuanya, lalu tak bisa melaluinya dengan baik, memaknainya dengan benar, apakah ia bisa jadi anak shaleh ?

Penyanyi kulit hitam Seal, yang beristrikan super model cantik, Heidi Klum memandang istrinya yang terpenting dalam hidupnya, baru kemudian anak2, ibu dan teman2nya. Yang paling membahagiakan anak adalah melihat orang tuanya rukun dan penuh cinta. Baru kemudian, orang tua menyayanginya. Jangan kebalik ; anak dulu dilimpahi kasih sayang, sedang istri harus berkorban melayani anak sampai dirinya sendiri terlantar, terakhir diurus. Keliru besar. Istri mesti tetap bisa merawat diri, cantik, enjoy dan menikmati hidupnya. Kegembiraan yang terpancar akan menggembirakan orang sekitarnya. Tanpa ia perlu melakukan banyak hal untuk suami dan anaknya.

Anak bisa berkompromi jika ibunya tak sempat membuat bekal makanan sekolah, telat mengambil rapor, punya acara rekreasi sendiri, pergi kumpul2 dengan teman sehobi, mendahulukan kesenangannya sebelum kesenangan anak dan hal remeh lainnya. Tapi, anak akan hancur hatinya, membekas hingga tua, jika orang tuanya tak lagi saling cinta, menjelek-jelekkan pasangan ( artinya juga menghina DNA anak, anak merasa berasal dari benih yang jelek ), apalagi sampai bercerai dengan menyimpan dendam permusuhan. Trauma seumur hidup. Kebahagiaan ayah ibu adalah kebahagiaan anak. Anak sangat peka dengan aura kasih yang terpancar dari interaksi mesra antara ayah dan ibunya. Hati anak berbunga-bunga, senyumnya mengembang.

Jika KD mengatakan ia merasa kurang nyaman, kurang bahagia, Anang jangan sensi dulu. Tilik dulu persoalan prioritas ini, anak dulu atau istri dulu yang disanjung, diperhatikan, dipenuhi kebutuhan psikisnya. Banyak wanita setelah menjadi ibu atau pendamping seseorang kehilangan jati dirinya, kebahagiaannya, karena jungkir balik memenuhi tuntutan menjadi ibu dan istri sempurna yang tak pernah ada batasnya. Pernyataan “kurang nyaman, kurang bahagia” bisa jadi hanya sinyal, lampu oranye untuk memperbaiki hubungan yang kini dirasa monoton, kurang kejutan, kurang gairah. Tidak men-judgment seluruh hubungan yang telah berjalan 13 tahun. Menjulangnya karir KD dan Anang, juga pujian sebagai pasangan abadi adalah bukti kesuksesan kalian membina hubungan sekaligus karir yang nyaris sempurna. Kami sebagai penikmat musik di tanah air, mafhum, di belakang kesuksesan KD, ada seorang Anang yang hebat. Don’t let you down. Both of you.

So, anak bukan segala-galanya. Istri atau suami adalah prioritas utama. Trust each other. Evaluasi hubungan kalian dan keinginan masing2 dengan kepala dingin di tempat yang betul2 rileks tanpa gangguan. Anak2 akan ikut ( segera masuk paket ) jika hubungan orang tuanya harmonis. Anak2 bisa survive melebihi yang kita duga. Right, kids ?

Update : Krisdayanti sudah resmi bercerai dengan Anang. Sayang sekali.


Written by Nanin Topi

11/12/2009 pada 09:43

Ditulis dalam resep cinta

Tagged with ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah..ini bener banget-banget..
    masalahnya buat yang hidup di indonesia, smpe skrg rasanya masyarakat tuh masih sangat mendewa-dewakan anak, orangtua (suami/istri) belakangan. pokoknya anak nomer satu.

    saya termasuk yang kurang setuju sama prinsip ini, dan mendukung konsep Seal-Heidi Klum tadi. saya sendiri bertekad kalo insyaallah nanti diberi amanah anak, saya nggak mau terlalu menomorsatukan anak. saya nggak mau anak saya merasa jadi ‘raja’ yang segala2 harus dituruti sama orangtuanya dan berani ngamuk, marah2 sampe mukul orangtuanya kalo ga diiyakan.

    ah, baru ngomong begitu aja, belum sampai dijelaskan, kalo di Indonesia biasanya saya sudah langsung dicap aneh, cuek, sampe langsung dipelototi, ‘gimana sih?!’

    haha..

    indi

    22/04/2010 at 04:35

  2. @ Indi : di Amerika pun, masyarakatnya masih melototi dan merasa janggal dengan ibu yang ‘berbeda’ dengan mereka. Padahal, anak lebih mandiri kalau tak terlalu diurusin. Belajar sabar dan mengerti, kalau ortu-nya punya privasi dan kesenangan pribadi. Bahagianya ortu, bahagianya anak. Nggak kebalik, ya ..

    Nan

    10/05/2010 at 17:19


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: