Cinta Keluarga

piece of mind, harmony couple, happy family

Tertawa & olok2 di realty show jodoh. Martabatnya mana ?

with 2 comments

Sebuah ajang cari ajang franchise asing di Indonesia. Akankah belahan hati anda yang diridhai Allah ditemukan di sini ?

Perjodohan sebenarnya urusan agung yang langsung terhubung dengan Tuhan. Sangat keterlaluan bila manusia menjadikannya reality show yang mencederai martabat.

Banyak orang bergidik ngeri menyaksikan pertunjukan cari jodoh di sebuah teve swasta. 30 pasang mata seperti ‘menguliti’ lawan jenisnya di panggung. Mereka dieksploitasi guna menjaring pemirsa dan pengiklan demi keuntungan materi. Acara berlisensi Fremantle Media ini terlebih sukses di Spanyol, Belanda dan Denmark. Di Indonesia, selain meraih rating tinggi, juga menjungkirbalikkan makna mencari jodoh. Penonton akan terjerumus kesimpulan prematur, bahwa untuk menggaet wanita terkesan mengedepankan kepemilikan mobil pribadi, rumah pribadi, perusahaan pribadi atau rekening pribadi.

Persepsi pemirsa juga diracuni, bahwa wanita cukup tampil sensual yang ‘membakar’ mata kontestan pria. Dengan busana super minim, menyingkap aurat, berdandan menor dan gerakan merangsang. Tak perlu susah2 memperindah akhlak. Boleh saja pria berperilaku baik atau berjiwa sosial, tapi kalau profesinya tak menjanjikan kekayaan harta, ia hanya numpang lewat. Peserta wanita tak malu menyibak kerakusannya. Tak bisa berkedip melihat uang, atau mencari pria yang mampu menafkahi 20 juta rupiah per bulan. Silakan saja wanita lembut, berbusana sopan, tampil di panggung. Tapi kalau tidak cantik, tidak seksi, tidak berpakaian terbuka, peserta pria serempak menolak. Wanita baik itu dipersilakan keluar arena secepatnya.

Tak puas cuma menolak, mereka tak sungkan mencoreng arang di kening. Dengan pedas peserta pria menolak seorang wanita ; “Terlalu kurus, badannya juga kecil !” , “Baik sih, tapi kurang putih !” , “Gemuk amat !” . Sebaliknya, peserta wanita tak kalah judes menolak laki2 ; “Gaji saya lebih besar dari dia !” , “Gue model, butuh dana besar untuk perawatan tubuh !” , “Aku tak suka cowok botak !”. Kalau begini yang kasihan adalah orang yang berniat serius, yang ternista gara2 keisengan dan ketamakan orang lain. Seorang wanita yang mengaku model betah menjadi peserta selama berminggu-minggu. Ia ketagihan menolak berbagai jenis pria. Ia tahu posisi kamera yang menguntungkan penampilannya. Tak malu2 berjoget centil dekat bintang tamu supaya disorot kamera. Promosi diri.

Jika dicari nilai positifnya ; pertama, mencari jodoh bukan urusan pribadi, tapi juga tanggung jawab masyarakat. Kedua, membangun semangat terus optimis mencari jodoh. Tak perlu putus asa gara2 usia, status duda atau janda. Ketiga, kegiatan cari jodoh bisa ceria dan melatih rasa percaya diri. Keempat, jika sampai menikah dan membangun keluarga sakinah akan berpahala.

Kemudaratan ajang cari jodoh ini ; pertama, niat mempertemukan jodoh lebih ditujukan untuk menghibur penonton hingga peserta terkondisi melakukan cara2 yang kurang bermartabat, menimbulkan sakit hati. Kedua, kriteria duniawi sangat kentara. Faktor kepribadian, kecemerlangan intelektual tak menentukan. Seolah dalam pernikahan yang dicari adalah pelampiasan seks dan harta, bukan keberkahan. Demi mendapat suami kaya, mereka rela merendahkan harga diri dan menjatuhkan saingan. Ketiga, peserta diarahkan menyontek pergaulan barat. Pegangan tangan, ciuman, memeluk, merangkul, dibiasakan begitu saja, padahal belum menikah. Kemesraan ilegal itu difasilitasi di romantic room. Keempat, usaha meraih legitimasi dengan menghadirkan seorang yang mengaku ustad, yang merestui hubungan perjodohan 2 insan beda agama. Apa dalilnya ? Apa dasarnya Al-Qur’an dan Hadis menghalalkan acara hedonis itu ? Kalau pun sekarang mengandalkan peramal cinta, membodohi akal sehat, peramal kok dipercaya ?

Ajang cari jodoh ini sangat laku. Indikatornya terlihat dari iklan yang membludak. Banjir uang. Perlu dipertanyakan, apakah nilai kebaikan lebih dominan dibanding keburukan ? Dalam Islam, kewajiban mencari jodoh bagi anak perempuan adalah tugas ayah atau walinya. Jika ayah atau wali tak bisa melakukan kewajiban mencari pria shaleh sebagai suami puterinya, maka negara yang bertugas mengurusinya sesuai syariat. Celakanya, saat ini, ayah saja tak lagi tahu kewajibannya, apalagi negara.

Perjodohan masa Rasul, wanita boleh agresif namun tetap elegan.

Di tengah kesibukannya memimpin negara dan membina kehidupan agama, Nabi Muhammad masih mengurus perjodohan. Kampanye perjodohan Rasul dimulai dengan menanamkan nilai leluhur yang terangkum dalam hadis,”Wanita itu dinikahi karena 4 perkara ; karena hartanya, karena kebaikan keturunan atau kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah karena faktor agama, karena dengan demikian itu engkau akan berbahagia.” ( HR.Bukhari dan Muslim ).

Setelah para pencari jodoh menyerap nilai Islami, maka Rasul melanjutkan misinya dengan menunaikan tugas mediator ( mak comblang ). Sangat banyak perjodohan berlanjut hingga ke jenjang pernikahan berkat media tsb, seperti Zaid bin Haritsah yang mantan budak dengan Zainab binti Jahsy, puteri bangsawan. Puteri Rasul, Fatimah yang cantik dinikahi prajurit melarat bernama Ali bin Abi Thalib. Mereka, generasi yang menikah demi ridha Allah. Bukan terbuai rayuan setan.

Ada kejadian menarik yang dipetik dari kitab Tahrir al-Mar’ah fiy ‘Ashriy al-Risalah karya Abdul Halim Abu Syuggah, bahwa sahabat bernama Anas menyaksikan seorang wanita mendatangi Nabi Muhammad dan berkata,”Wahai Rasul, apakah engkau berminat menikahiku ?”. Keberanian wanita itu mengagetkan puteri Anas hingga berkomentar,”Alangkah sedikitnya rasa malu perempuan itu.” Anas menasehati puterinya,” Wanita itu lebih baik daripada dirimu. Dia senang kepada Rasul lalu menawarkan diri untuk dinikahi.”

Dari kisah itu disimpulkan, mencari jodoh di depan umum atau secara terbuka, sebetulnya tidak masalah. Asalkan orang2 yang mendampingi/ menyaksikan tergolong shaleh dan mampu menjaga martabat kita. Tidak masalah kalau publik kita sebijaksana Anas. Ia akan membantu meredam kemungkinan buruk. Tapi menjadi masalah, kalau ditonton jutaan pemirsa yang ikut mentertawakan dan memperolok-olok. Wallahu’ alam bilshawab. ( Rina Novia/ Hidayah, Feb’2010 )

Written by Nanin Topi

03/02/2010 pada 15:01

Ditulis dalam resep cinta

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. saya sangat setuju dg pendapat mengenai reality show yg sdg maraknya di indonesia..para artis dg cuek dan dg sadar telah memperlihatkan sebagian mereka tidak memiliki akhlak dan moral,dan tanpa sadar mereka jg seperti dilelang. terutama artis wanita..sebagian para artis saat ini memberikan racun kepada masyarakat tapi tdk satupun pihak yg ingin menegur semua itu..

    rose

    22/02/2010 at 18:46

  2. @ Rose : kekuatan modal masih mendominasi. Mayoritas masih berorientasi sekuler. Lama2 penonton terbiasa melihat yang minim2. Yang mawas diri dan kritis jadi anomali. Semoga Allah masih sudi menuntun bangsa ini.

    Nan

    25/03/2010 at 09:54


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: